Sabtu, 13 Agustus 2022

Dia, si Pelita.


Sebut saja ia si paling cengeng, tapi sok kuat

panggil saja ia si paling bijak, tapi sok tegar

tapi bolehkah ia dipanggil si tukang menyesal?

kupastikan ia pasti meringis, karena tak mampu mengelak.


Dia dengan sejuta pemikirannya yang ruwet,

sampai-sampai tak bisa tidur sebelum memastikan pintu telah terkunci.

dia yang menghabiskan waktu untuk mengerti namun takut dibenci.

sungguh, si tukang peduli yang merepotkan.


Padahal bisa saja ia bersikap acuh,

melontarkan kalimat pahit tanpa ragu,

menutup mata dan telinga untuk kabar candu.

tapi lagi-lagi ia si peka yang menyebalkan.

Itulah dia, yang selamanya akan menjadi si Pelita.





0 komentar:

Posting Komentar