Kamis, 28 Juli 2022

Jemari Yang Tak Punya Hati

 “diam adalah emas,” itu kata sebagian orang bijak.

Namun aku tidak sependapat.

kau, aku, dan mereka harus terima!

Saat mulut tak lagi harus bersuara, jemari telah resmi menjadi penggantinya.

Jika mulut kadang terbata berucap, jemari justru keluar jalur.

Jika mulut kadang bergetar mengucap kata, jemari justru tak kenal gugup.

Olehnya, kau boleh sengaja melempar kerikil di atas sungai yang tenang untuk kau lihat gelembungnya, 

tetapi jangan fikir kerikil itu hilang begitu saja, karena kupastikan ia akan kembali lagi pada jemarimu untuk bertanya “mengapa kau melempar?” 

Continue reading Jemari Yang Tak Punya Hati

Ijinkan Aku, Sebelum itu..


Oh. Haii..,

Selamat datang, di halamanku ,-

Ya, untuk mengawali postingan pertamaku ini, aku hanya ingin berterimakasih pada diriku sendiri, yang sudah melewati banyak hal yang sebenarnya perlu dan tidak perlu terjadi dalam hidupku, ya termasuk memutuskan untuk kembali menulis- yang mana sempat ku lari padanya.

Rindu. Apa lagi yang bisa membuat seseorang kembali selain rindu. Ia adalah satu kata ajaib yang mewakili seluruh rangkaian kalimatku saat ini, aku rindu menulis ditengah suara rintik hujan diatas atap, aku rindu menulis disaat semua mata terpejam lelap,

Ya dan aku merindu, saat membaca kembali tulisan-tulisanku yang usang.

Continue reading Ijinkan Aku, Sebelum itu..